Peranan PT dalam Mempersiapkan SDM Yang Berdaya Saing di Era Perdagangan Bebas

October 17, 2015 oleh admin FE Janabadra

Kaum pesimistis (kebanyakan lawyers atau Sarjana Hukum) berbicara tentang “berbagai masalah”. Kaum optimistis (kebanyakan klien kita) berbicara tentang “tantangan-tantangan.” Saya percaya bahwa Anda menghadapi berbagai macam tantangan sehubungan dengan eksistensi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang baru (new ASEAN Economic Community/AEC), yang hanya dapat dicapai melalui persiapan yang memadai, khususnya pada tingkat pendidikan tinggi.Berbagai saran dan analisis yang didiskusikan di dalam pidato ini lebih banyak ditujukan kepada fakultas hukum dan fakultas ekonomi/bisnis meskipun topik ini juga dapat menjangkau bidang-bidang yang lain. Demikian disampaikan oleh Prof. David K. Linnan pada pidato dies natalis Universitas Janabadra (7/10) di Ruang Auditorium KPH Poerwokoesoemo.

Lebih lnjut David K Linnan (School of Law, University of South Carolina USA) “Pertimbangan paling pentingyang seharusnya dilakukan dititikberatkan pada perubahan yang akan berlangsung secara cepat di Indonesia akibat dari terbentuknya integrasi ekonomi di kawasan ASEAN tersebut. Oleh karena itu, kita harus menanamkan ke dalam diri kita sendiri tekad untuk melatih mahasiswa kita supaya dapat bekerja sebagai Sarjana Hukum (“berpikir seperti seorang sarjana hukum”), daripada hanya sekedar mengajarkan doktrin hukum seperti sekarang ini.”

Dalam era Perdagangan Bebas, Masyarakat Ekonomi ASEANdalam hal jangka waktunyatidak didefinisikan secara baik.Tetapi saya berpendapat bahwa dua puluh tahun mungin merupakan prediksi yang tepat. Merunut kembali apa yang telah dialami oleh Indonesia 20 tahun yang lalu (saat saya pertama kali mulai bekerja di sini secara akademis). Indonesia sudah banyak mengalami perubahaan.Jika penilaian tersebut benar, perubahan serupa juga akan terjadi secara cepat sekitar tahun 2035. Berdasarkan pemahaman ini, mahasiswa Fakultas Hukum yang sekarang berusia 20 tahun mungkin akan bekerja secara profesional sekitar 20 tahun kemudian. Efek perubahan kombinasi tahun 20 + 20 + 20 mendukung gagasan bahwa Perguruan Tinggi seharusnya lebih mengajarkan tentang bagaimana mahasiswa dapat bekerja sebagai seorang lawyer atau jurist, dari pada memikirkan Perguruan Tinggi sebagai tempat pengajaran doktrin hukum seperti saat ini yang sudah dianggap sebagai kebenaran yang abadi.

Kita sedang berbicara mengenai dua bidang penting yang terpisah, yaitu pendidikan tinggi (dan reformasinya) serta perubahan dan ekonomi regional di wilayah ASEAN atau Asia tenggara. Namun, cakupannya dapat lebih luas lagi meliputi kawasan di seluruh Asia dikarenakan penambahan kelompok RCEP (Regional Common Economic Policy atau Kebijakan Ekonomi Umum Regional) dan/ atau TPP (Transpacific Partnership atau Kemitraan Transpasific) ke dalam sebuah integrasi ekonomi dunia.Di tingkat Perguruan Tinggi, pembahasan ini didasarkan atas analisis yang memerlukan peran tripartit di bidang pendidikan, pengajaran dan pengabdian. Sedangkan Di tingkat Ekonomi, proses Masyarakat Ekonomi ASEAN (selanjutnya disingkat AEC) dapat diidentifikasikan sebagai bagian dari permasalahan daya saing Indonesia di wilayah ASEAN, dan kewaspadaan jangka panjang terhadap jebakan pendapatan menengah (middle income trap) yang dihindari oleh para pimpinan negara dalam batas waktu 20-30 tahun mendatang.

Mari kita mulai pembahasan topik ini dengan keadaan (circumstances).Internasionalisasi mungkin bersifat mempercepat dari pada memperlambat yang tidak hanya berorientasi pada gaya (style) barat tetapi juga terjadi melalui kerjasama ekonomi Selatan-Selatan dimana ASEAN itu sendiri dan Masyarakat Ekonomi ASEAN dapat dianggap sebagai bagian yang ada di dalamnya. Sebagai bagian dari internasionalisasi, kaum berpendidikan tinggi (mahasiswa Anda) melakukan sesuatu dengan lebih baik karena mereka akan menghadapi peluang yang lebih besar. Karena AEC sebagian besar merupakan sebuah konsep ekonomi, fokus hukum akan berada pada tingkat hukum bisnis dan perdagangan internasional. Tetapi efek ekonomi AEC seperti kompetisiterhadap masyarakat luas (barang-barang yang lebih murah) akan menguntungkan konsumen di semua lapisan masyarakat, jika kompetisi ini didukung untuk berproses secara segera. Jadi, bagaimana keterlibatan pendidikan tinggi dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa Anda?

Dari sudut pandang pendidikan, Anda harus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka karena Bahasa Inggris sekarang telah menjadi Bahasa komunikasi internasional. Beberapa orang dengan keahlian tertentu mungkin belajar Bahasa Thailand, China, Korea atau Jepang. Tetapi untuk pekerjaan sehari-hari semua lulusan fakultas hukum memerlukan kemampuan Bahasa Inggris yang lebih baik.Beberapa Fakultas Hukum papan atas sekarang menginginkan tes TOEFLsebagai bagian dari proses penerimaan mahasiswa. Hal ini sebenarnya sudah cukup untuk menawarkan kepada mahasiswa Anda untuk berlatih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka (dan mungkin melakukan tes tentang beberapa standar minimum sebelum mereka menyelesaikan pendidikannya).Tetapi jika kita fokus dengan peningkatan SDM di bidang hukum bisnis dan perdagangan, saya berpikir mereka juga perlu mengembangkan kelancaran dalam bahasa bisnis (akuntansi). Jadi, perguruan tinggu mungkin perlu memberikan beberapa pertimbangan untuk menambah mata kuliah akuntansi kepada para sarjana hukum(“accounting for lawyers”) seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa fakultas hukum papan atas di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit adalah sejauh mana Anda dapat meningkatkan kerjasama antar fakultas seperti Fakultas Hukum dengan Fakultas Ekonomi atau Bisnis untuk menyiapkan mahasiswa dengan lebih baik di kedua fakultas tersebut di masa mendatang. Bersama dengan Akuntansi sebagai Bahasa bisnis, ilmu ekonomi adalah sesungguhnya merupakan dasar darikegiatan bisnis dan ekonomi.Para mahasiswa Fakultas Hukum akan menemui kesulitan untuk meningkatkan kemampuan mereka sebagai sarjana Hukum dengan keahlian bisnis dan perdagangan tanpa meningkatkan kemampuan mereka di bidang ekonomi. Hukum Ekonomi di dalam praktik mensyaratkan pengetahuan di bidang ekonomi itu sendiri.Jadi, hukum tidak dapat diperlakukan hanya sebagai sebuah konsep filosofi di dalam tradisi Civil Law.Sebagai contoh praktis, 35 tahun yang lalu saat saya menjadi seorang mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Chicago, saya belajar Hukum Persaingan (Competition Law).Mata kuliah tersebut diasuh oleh seorang profesor Hukum dan seorang ahli ekonomi. Kelas dilaksanakan tiga kali seminggu, dua kali bertemu dengan Profesor Hukum dan sekali dengan ahli ekonomi.Ini merupakan sebuah model, tetapi bukan satu-satunya. Hal yang harus diingat bahwa mahasiswa fakultas hukum itu sendiri perlu pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dimaksud dengan Era Perdagangan Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN dan perlu juga dibekali dengan pengertian teknis. Jadi bagaimana meningkatkan kerja sama antar fakultasuntuk mempersiapkan mahasiswa agar dapat menghadapi era baru inidengan lebih baik?Rektorperlu mengetahui bahwa kerja sama tersebut seharusnya tidak meningkatkan biaya karena perguruan tinggi Anda sudah memiliki tenaga pengajar dengan keahlian ekonomi dan hukum. Perbedaannya hanya pada fakultas yang terpisah.

Mari kita melihat secara lebih dekat dua permasalahan yang saya pikir menyatu dengan konsep Era Perdagangan Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN.Konsep tersebut berhubungan denganapa yang Perguruan Tinggi seharusnya lakukan yang mungkin secara berimbang telah terdapat di dalam aktivitas penelitian, pengabdian dan pengajaran. Pembahasan pertama adalah konsep “persaingan” (the concept of “competitiveness”).Topik inimungkin lebih banyak diketahui oleh ahli ekonomi dan Fakultas Bisnis daripada Fakultas Hukum. Baru - baru ini Forum Ekonomi Dunia (the World Economic Forum)mengumumkan ranking persaingan negara-negara pada tahun 2015-2016. Ranking persaingan antar negara ASEAN itu sendiri adalah sebagai berikut: Negara ranking tahun ini (2015-16) ranking sebelumnya (2014-15) Singapura 2 (2) Malaysia 18 (20) Thailand 32 (31) Indonesia 37 (34) Filipina 47 (52) Vietnam 56 (68) Kamboja 90 (95) Myanmar 131 (134)

Skor tersebut tentunya dapat berubah-ubah (arbitrary)pada tingkat tertentu dan perubahannya dari tahun ke tahun tetapi pengukuran persaingan negara menggunakan 7 faktor (institusi, infrastruktur, keadaaan makroeconomi, pelatihan dan pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang dan efisiensi pasar tenaga kerja ).

Singapura memiliki skor tertinggi dikarenakan keunggulannya di dua bidang, yaitu pelatihan dan pendidikan tinggi ditambah dengan efisiensi pasar barang.Jadi, memiliki pendidikan tinggi dan pelatihan yang sangat baik merupakan salah satu faktor yang membuat Singapura negara kedua yang paling kompetitif di dunia.Apa yang diperbuat oleh Perguruan Tinggi di Indonesia mempunyai efek yang sangat nyata terhadap persaingan ekonomi dari sebuah negara. Jadi, pesan selamat yang disampaikan oleh Presiden Jokowi kepada Rektor Universitas Janabadra terkait persiapan SDM yang saya lihat digantungkan di dinding kantor Rektor, adalah sebuah elemen yang sangat nyata mengenai persaingan Indonesia dalam ranking internasional. Kesimpulannya, apa yang pendidik lakukan atau tidak lakukan dalam hal peningkatan kualitas SDM memiliki konsekuensi tersendiri.

Bahkan jika ranking diantara negara ASEAN tidak berubah, saya merekomendasikan Anda untuk tetap fokus pada arah pembangunan negara-negara tersebut karena hal itu merupakan sebuah indikasi tentang bagaimana kelompok negara lainnya di ASEAN sedang mempersiapkan dirinya untuk menyongsong era baru tersebut. Hal yang perlu diwaspadai adalah Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam,dan bahkan Kamboja serta Myanmar lambat tapi pasti telah berkembang. Hanya Thailand dan Indonesia negara ASEAN yang mengalami sedikit penurunan ranking tahun yang lalu berdasarkan data tersebut.Kita semua telah mendengar di media tentang perpecahan besar yang terjadi di dalam politk dan masyarakat Thailand.Tetapi penjelasan apakah yang dapat diberikan terhadap menurunnya kondisi di Indonesia dibandingkan dengan kinerja sebagian besar negara tetangga ASEAN lainnya? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan terkait dengan penelitian dan pengabdian yang mungkin melibatkan Perguruan Tinggi karena hal itu akan meningkatkan kontribusi mereka juga di dalam pendidikan dan pelatihan. Terakhir, inti yang sama terkait ekspektasi tentang siapa yang paling mendapatkan manfaat dari era baru tersebut. Berita baiknya adalah bukan selalu “bisnis besar” yang mendapatkan manfaat tetapi lebih kepada orang –orang yang berasal dari kelas menengah dengan pendidikan tinggi dan keahlian seperti mahasiswa anda.Saya mungkin salah, tetapi berrdasarkan pendapat para ahli ekonomi ada sebuah peningkatan yang cukup signifikan terhadap koefisien ketidakseimbangan penyebaran penghasilan di Indonesiayang menciptakan kesulitan pada tingkat pemerataan dan harga barang-barang serta jasa yang lebih rendah yang dapat menguntungkan semua lapisan masyarakat.Meskipun demikian, di dalam pikiran saya pertanyaan dari masyarakat Indonesia adalah sejauh manaada keuntungan yang lebih nyata kepada kalangan kelas menegah yang terdidik (mahasiswa anda mungkin sebagai kelas menengah) dari pada pekerja biasa lainnya (wong cilik) atau sebagian masyarakat yang lebih sejahtera (orang kaya).Jadi, pertanyaan terkait pengetahuan dan pengabdian adalah apakah asumsi saya benar, dan jika demikian, bagaimana menghindari apa yang saya sebut sebagai sebuah penurunan keadilan yang memperbesar jurang antara kelas menengah terdidik dengan pekerja biasa (yang hanya mungkin menempuh 5-7 tahun pendidikan formal).

Tuliskan komentar

(*) Merupakan informasi yang wajib anda isi